[170206] Mahasiswa Sem.8 Masih Sehat?

10978641_1574701122768396_35671470744224699_n

Tahun ke empat. Delapan semester and still going on. Banyak suka duka yang telah saya lalui. Mulai dari status maba menjadi senior tua :'(. Dan MASIH menunggu hingga bisa berada digedung baruga bersama dengan mahasiswa lainnya diwisuda dan resmi menyandang gelar sarjana.

Menjadi mahasiswa Pertanian, jurusan Teknologi Pertanian, Prodi Ilmu dan Teknologi. “Sebuah program studi yang masih jarang diketahui orang, namun begitu terdengar dikira jurusan masak memasak, semacam sekolah koki, padahal bukan, atau sesekali dikira belajar menanam padi, padahal bukan juga, sebab pada kenyataannya para mahasiswanya SEDIKIT frustasi akibat ketemu satuan operasi, mikrobiologi, uji sensori, ilmu gizi, dan reaksi biokimiawi, namun demikian mereka selalu hepi, bahkan para alumni terbukti bahagia, sukses dimana saja, dan menjadi menantu idaman para calon mertua.” Terima kasih untuk seseorang yang sudah mendeskripsikan kami seperti itu.

Ketika masih menjalani masa kuliah kerja nyata didesa, sebagian warga desa mengira saya pandai dalam hal menanam padi, mengurusi hama dan penyakit tanaman kebun, dan sebagainya. Sehingga diminta untuk membuat program kerja yang menyangkut tanam menanam. Padahal saya sama sekali tidak tahu mengenai soal tanam menanam. Di prodi kami terbagi menjadi beberapa bagian, seperti mikrobiologi dan bioteknologi pangan, kimia analisa, pengolahan pangan, dan pengembangan produk. Kami hanya mempelajari bahan pangan pada saat dipanen hingga pasca panen. Sementara tanam menanam bukan menjadi bagian kami (mungkin di jurusan agrotek yang mempelajari itu). Tapi saat itu saya hanya tersenyum pait karena malas begete menjelaskan bahwa saya memang mahasiswa dari fakultas pertanian tetapi tidak pernah mempelajari cara menanam padi yang benar.

Saat baru menjadi maba selalu di tanya sama orang-orang “Lulus dimana? Fakultas apa?” Lalu saya jawab “Di Unhas bu, Prodi ITP, Fakultas Pertanian.” Di balas sama si penanya “Oh bagus itu, bisa pergi kesawah jadi petani.” Heol -_____,,- rasanya pingin ketawa sambil nangis. Kalau saya mau jadi petani untuk apa sekolah tinggi-tinggi di kampus belajar mending sekolah biasa saja. Karena capek dengar kalimat yang sama saya sempat pengen pindah fakultas :’) tapi lama-lama, rasanya sayang kalau mau mengulang dari awal. Kalau ingat masa-masa maba rasanya tidak sanggup awak. :’ Disuruh ikut pengumpulan, dikader, badan semua sakit-sakit, kabur-kaburan, diburu-buru sama senior seperti kita ini artis saja di buru-buru. Ikut mata kuliah umum lagi. Capek! Jadi sampai detik ini saya masih bertahan.

Mengingat waktu saya menjadi mahasiswa tidak lama lagi dan berharap diwaktu yang akan datang tidak akan menjadi pengangguran, saya berada di tahap -nyaris- akhir (proposal & penelitian) rasanya hampir gila. Kadang stress sendiri, setiap bangun pagi mikir bikin apa hari ini ya, mau kerja proposal tapi malas bingits. Baru buka word ae sudah malas mak.

Ditambah teman-teman saja satu-satu sudah menikah, lambung kiri saya ๐Ÿ˜ฅ (Oppa masih di korea ngumpulin duit buat nikah jadi mari menunggu hingga saatnya oppa datang melamar a.k.a impossible) saya menjadi galau. Saya tidak mau menikah muda seperti mereka. Paling tidak pengen lulus dulu, tinggal di Malang barang tiga bulan, belajar bahasa korea, kerja ngumpulin duit buat ketemu Oppa di Korea, jalan-jalan ke Seoul, Busan, Tongyeong, Icheon, dll, beli kpop stuff & makeup di Korea. Kalau sudah baru nikah kalau bisa sama Oppa hahaha.

Until the ‘Day’ coming, keep calm and fighting. Keep healthy and strong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s