Time thing….

​

Dari kecil, orang tua saya membiasakan saya disiplin waktu. Jam tidur siang jam segini, jam minum vitamin jam segini, jam tidur malang jam segini, jam nonton tivi jam segini, jam belajar jam segini. Mulai remaja, saya diberi waktu pulang kerumah jam enam sore, lalu jam malam saya mulai bertambah menjadi jam delapan malam sejak saya masuk kuliah. Jika saya pulang lewat dari jam yang sudah ditentukan tersebut maka ayah saya akan mengunci pagar dan tidak akan memberikan saya izin masuk kerumah. Dan saya sudah merasakan tiga kali dikuncikan diluar rumah sendirian. 

Karena ayah saya tidak suka menunggu, setiap kali beliau minta dijemput pasti saya jemput lima menit lebih awal dari waktu yang sudah saya sepakati bersama ayah saya. Kalau saya telat menjemput dan membuatnya menunggu satu menitpun, maka ayah saya akan marah dan mulai mengomel. 

Terbiasa dari situ, setiap kali saya ada janji mau ketemuan atau hal apapun yang menyangkut waktu saya selalu mencoba untuk datang lima atau sepuluh menit lebih cepat. Bohong, kalau saya tidak pernah telat selama hidup. Tapi membuat seseorang menunggu saya hampir 3 jam lamanya saya tidak pernah. 

Saya bukan memang bukan orang penting, siapalah saya. Tapi kalau dibuat menunggu selama itu, rasanya nano nano. Okelah saya mencoba mengerti, mungkin mereka kena macet, oh si ini lagi nungguin ini jadi belum berangkat, lalu tiba-tiba si -sebut saja namanya Budi- ini bilang di grup chat ‘sudah zuhur ya baru berangkat’, rasanya saya gimana gitu pengen protes juga. Lah, saya juga disini sudah kelaparan terus mau shalat juga dan saya ada janji jam segini. Kalau mau nungguin si Budi ah lebih baik saya pulang. Banyak urusan saya yang lain gak jadi karena waktu saya digunakan hanya untuk menunggu. Toh yang ditunggu juga tidak mencoba untuk mengerti dan menghargai waktu saya. Biarpun waktu ku belum tentu sama dengan uang.

Cobalah, berdiri di posisi saya. Rasakan apa yang saya rasakan, lihat apa yang saya lihat, pikirkan apa yang saya juga pikirkan. Jangan hanya meminta saya memahami kalian satu-satu. Mari saling memahami.

Kita memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Mungkin bagi si ini hal A yang lebih penting dari pada hal B. Tapi bagi si itu hal B lebih penting daripada hal A. Kalau mau menyatukan kepentingan dan pandangan 30 orang sepertinya  harus menunggu bulan terbelah di langit Amerika dulu baru bisa-_-. 

Tapi memang pasti selalu ada manusia yang tidak menghargai yang menghargai, tidak memahami yang memahami, mengerti yang mengerti. Ada yang lebih mementingkan waktu daripada kebersamaan, ada pula yang lebih mementingkan kebersamaan daripada waktu yang sudah terlewatkan dengan menunggu. 

Maka dari itu mari saling memahami, mengerti dan menghargai waktu setiap manusia. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s