Untold Story : Old Memories {One}

image

Tidak ada hal yang penting hari ini. Semuanya masih menjemukan. Ayah yang sudah berada dibalik laptponya, Ibuku yang sedang memasak di dapur, adikku yang sudah bertengger di depan televisi menonton kartun, dan kakak lelakiku masih terlelap dikamarnya.

Terdengar suara bising kendaraan besar dari luar jendelaku. Memaksaku untuk bangun dari tempat tidurku dan berjalan menuju jendela hanya untuk memuaskan rasa penasaranku. Oh, ada tetangga baru rupanya.

Ayahku membeli rumah ini dua tahun lalu. Terletak ditengah-tengah kota Seoul dan merupakan kompleks elit  yang jarang terlihat penghuninya bahkan disiang hari. Keluargaku cukup berada sehingga mampu membeli rumah ini. Ayah termasuk orang yang penyendiri dan tidak banyak omong. Ia hanya berbicara bila ingin dan merasa perlu. Sedangkan Ibu sebaliknya. Ibu merupakan orang yang ceria dan cerewet. Ia senang berkenalan dengan orang baru. Baru beberapa hari tinggal dilingkungan ini saja Ibu sudah mengenal banyak tetangga bahkan yang berbeda blok dari rumah kami.  Entah bagaimana ayah dan ibu bertemu dan saling menyukai.

Tanganku baru bergerak sedikit untuk menutup tirai jendelaku kembali saat mataku bertemu pandang dengan sepasang mata milik anak laki-laki yang bisa kuperkirakan umurnya lebih tua sedikit dariku. Karena tidak ingin anak itu mengiraku sedang memata-matainya, aku menutup tirai jendelaku cepat.

‘Miss Park, waktunya sarapan.” Aku sedikit terkejut saat adikku, Yongjae, membuka pintu kamarku dengan tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan disitu. Ada hal yang menarik diluar sana selain awan putih dan matahari yang sudah muncul secara malu-malu dari arah timur?”

“Tidak. Ada yang baru pindah ke rumah kosong disebelah.”

“Benarkah? Mungkin kita akan punya teman baru.”

“Eung, bangunkan Oppa, lalu cepatlah turun.”

Yongjae mengangguk dan melesat keluar dari kamarku. Saat aku sampai di meja makan, aku hanya mendapati Ayah seorang diri menyantap sarapannya.
“Mana Ibu?”

“Menyapa tetangga baru, mungkin dia akan melewatkan sarapannya.”

Setelah itu tidak ada percakapan diantara kami hingga Yongjae dan Jungsoo, kakakku, datang bergabung dan menanyakan hal yang sama denganku dan dijawab pula dengan jawaban yang sama oleh Ayah. Ibu kembali saat aku sudah bersiap-siap untuk ke sekolah.

“Yongjae ya, Yongna ya!” Ku dengar Ibu memanggil. Aku memasukkan ponselku ke saku jasku dan keluar dari kamar.

“Mana Yongjae?” tanya Ibu yang baru muncul dari arah dapur.

“Masih diatas, sebentar lagi akan turun.”

“Suruh dia cepat, Ibu tidak bisa mengantar kalian ke sekolah. Jadi kalian naik bus saja.”

Aku merasa keberatan, karena selama ini aku tidak pernah naik bus untuk berangkat ke sekolah.

“Kenapa begitu, Ibu tahu aku tidak pernah naik bus ke sekolah.”

“Jangan manja, kau tidak akan terlambat. Ibu harus membantu tetangga sebelah berberes. Kasian mereka semua terlihat kelelahan.”

Bagian inilah yang paling tidak kusukai dari Ibuku. ibu terlalu gampang merasa kasihan. Pernah suatu hari Ibu harus pulang malam hanya karena membantu seorang nenek yang tersesat untuk pulang kerumahnya. Dirumah kami juga sudah hampir mirip kebun binatang. Ibu membawa pulang semua binatang yang terluka yang ditemuinya dijalanan.

Kami semiliki sekitar empat ekor kucing, seekor anjing kecil, ada seekor burung beo yang ingin sekali aku dan ayah jual karena mereka terlalu ribut, dan ada seekor kura-kura. Aku tidak mempunyai masalah dengan binatang-binatang itu, hanya saja burung beo itu sering mengeluarkan suara tangisan aneh yang entah darimana dia pelajari.

“Sudahlah jangan mengkerutkan dahimu. Nah, Yongjae kau pasti tahu bus yang mana yang menuju kesekolah jadi jangan mengeluh untuk sekali ini saja.”

Setelah berkata seperti itu Ibu bergegas keluar dari rumah dan meninggalkan kami berdua yang mematung memandanginya berlalu. Aku menoleh kearah Yongjae yang bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Sepertinya naik bus tidak terlalu buruk.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berjalan menuju halte bus dan menunggu disana bersama Yongjae dan belasan orang yang juga menunggu bus.

“Park Yongna!” Panggilan itu membuatku menoleh ke samping dan melihat Shiwoo agak terkejut melihatku. Tanpa memerdulikannya, aku memasang headset ketelingaku.

Tiba-tiba, Shinwoo menarik headsetku hingga pandanganku kembali padanya.

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku datar. Entah mengapa aku selalu merasa terganggu bila mengetahui Shunwoo berada didekatku.

“Wah wah, tidak perlu menatapku seperti itu. Aku hanya penasaran apa yang membuatmu ada disini padahal ku kau selalu diantar-jemput setiap hari.”

“Kembalikan.” Aku berusaha mengambil kembali headsetku yang berada digenggamannya. Tapi sayangnya, tangannya lebih cepat. Dia memasukkannya kedalam saku celananya.

“Rasanya aku belum mau mengembalikannya. Jadi bersabarlah hingga aku mau memberikannya kembali.”

Shinwoo menepuk kepalaku dan mendahuluiku naik ke bus yang baru saja tiba bersamaan dengan datangnya bus yang kata Yongjae akan membawa kami kesekolah. Ngomong-ngomong soal Yongjae, aku hampir melupakan kehadirannya.

“Yong…jae… apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Yongjae menatapku penuh selidik saat aku berbalik mencarinya.

“Pacarmu?” tanyanya penuh selidik. “Aku belum pernah melihatnya.”

Aku mendecak sambil menarik lengannya menuju bus setelah semua orang sudah lebih dulu masuk kedalamnya.

“Bagaimana kau bisa mengenalnya, kau saja jarang keluar dari kelasmu.” Yongjae hanya berbeda setahun dariku. Maka dari itu dia lebih dekat denganku dibanding Jungsoo Oppa. Sekalipun dalam 18 tahun hidupku dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan nuna. Sehingga jika orang lain mendengarnya akan mengira kami ini teman seumuran.

Buis itu dipenuhi oleh siswa-siswi lain, beruntung kami masih mendapatkan kursi. Kami duduk jauh di depan Shinwoo. Dia membuatku selalu merasa jengkel. Entahlah, aku tidak tahu apa yang membuat dirinya senang membuatku jengkel. Shinwoo termasuk salah satu dari teman sekelasku. Tidak banyak murid dalam kelas kami. Sistem disekolah ini membagi kelasnya sesuai dengan rangking dari kelas sebelumnya. Jadi murid pintar akan bergabung  dengan murid pintar dan yang yang malas akan bersama dengan yang malas. Bisa dibayangkan kelas lain lebih banyak penghuninya daripada kelas kami. Hal itu membuat aura persaingan didalam kelasku lebih terasa dan suasana terasa seperti kuburan saat pelajaran berlangsung.

Bus itu berhenti 20 menit kemudian di halte bus sekolah. Tidak ada tanda-tanda Shinwoo berniat mengembalikan headsetku. Laki-laki itu langsung turun tanpa melihatku sedikitpun.

“Pinjamkan aku headsetmu,” seruku pada Yongjae ketika kami akan berpisah menuju kekelas masimg-masing.

“Tidak mau, kau tidak pernah membersihkan telingamu.”

“Jangan bicara sembarangan! Aku selalu membersihkan telingaku dengan bersih.” Aku mengambil headset Yongjae yang masih terhubung dengan ponselnya, seperti cara Shinwoo mengambil milikku. “Nanti ku kembalikan.”

“Hei, Yong!”

Heejin menghampiri dan mengamit lenganku. “Ada apa?”

“Sepertinya ada murid pindahan dikelas kita.” Heejin menunjuk sebuah meja dan kursi, yang sebelumnya tidak ada, di baris belakang tepat disebelah meja Minwoo.

“Pasti dia termasuk murid pandai, kelas kita ‘kan kelas atas,” lanjut Heejin. Aku meletakkan tasku dan menoleh ke arah Shinwoo yang duduk dibarisan depan. Anak itu sedang menelungkupkan kepalanya diatas mejanya.

“Ah, menyebalkan,” gumamku, nyaris tak kedengaran namun Heejin yang berdiri didekatku mampu mendengarnya

“Huh? Kenapa?” Heejin terlihat bingung.

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Sudah mengerjakan pr-mu?” tanyaku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Tidak ada yang tahu jika Shinwoo senang menggangguku. Dia hanya mengangguku saat aku sendirian.

That bastard.

Cerita lama yang tersimpan di catatan elektronikku sejak tahun lalu dan akhirnya berhasil saya lanjutkan. Belum kepikiran bagaimana endingnya jadi gak tau deh kalau cerita ini bakalan ada kata end-nya atau nggak. Hiks.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s