What If

image

Kim Junghwan seharusnya keluar dari persembunyiannya dan bersikap jantan. Ya, seandainya ia berani dan tidak membuat diri sendirinya tersiksa.

“Apa kau baik-baik saja?”

Oke, harusnya aku tidak perlu bertanya. Jelas sekali dia sedang tidak baik-baik saja. Meskipun bukan aku yang mengalaminya, hatiku juga sakit. Aku patah hati. Dari awal mengetahui bahwa bocah ini menyukai tetangga sekaligus temannya sedari kecil, aku sudah mendukungnya. Bocah ini membuatku gemas melihat tingkah bodohnya.

Malam itu, Sung Deoksun, gadis yang disukai oleh bocah ini, pulang terlambat dari study room. Walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya tetap saja membuat Junghwan risih dan tidak bisa tidur. Ditambah lagi, diluar sana hujan deras. Sepanjang malam itu, Junghwan tidak bisa berhenti melirik jam diatas meja belajarnya dan akhirnya memutuskan untuk menunggu Deoksun di persimpangan dengan membawa payung. Dua jam Junghwan berdiri di tengah derasnya hujan menunggu hingga akhirnya Deoksun muncul. Tanpa banyak bicara ia mendekati Deoksun dan memberikan payungnya. Ia dapat melihat raut bingung Deoksun dan langsung berbalik pulang kehujanan. Tak apa, pikirnya. Yang penting Deoksun tidak kebasahan karena hujan.

Kejadian lainnya adalah pada seminggu sebelum natal. Junghwan dan Deoksun sedang menonton drama yang sedang booming saat itu. Saat melihat pemeran utama perempuan sedang merajut sarung tangan bewarna pink, Deoksun tiba-tiba berseru bahwa ia ingin sekali memiliki sarung tangan bewarna pink seperti itu. Diam-diam Junghwan mengamati dan mengingatkan dirinya untuk membeli sarung tangan pink. Pada hari natal, seperti orang bodoh, ia berjalan pelan dengan ragu-ragu ke arah rumah Deoksun. Baru saja ia akan mengetuk pintu rumah Deoksun, pintu rumah itu terbuka dan Sung Noeul, adik laki-laki Deoksun, keluar. Dengan salah tingkah, Junghwan mengulurkan kotak kecil berisi sarung tangan yang diinginkan Deoksun pada Noeul. “Berikan pada Sung Deoksun.”

Setiap hari, dengan sengaja ia menunggu Deoksun di depan pagar rumahnya agar bisa berangkat ke sekolah bersama-sama. Awalnya dia berusaha terlihat cuek saat mereka telah berada di dalam bus yang penuh sesak dengan anak sekolah lainnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Junghwan berjalan mendekati Deoksun yang berdiri di bagian tengah bus. Ia berdiri tepat dibelakang Deoksun dan menjaga agar Deoksun tidak berdesakan dengan yang lain.

Seakan belum cukup menghancurkan hatiku, si bodoh itu memutuskan memendam perasaanya dan membiarkan Deoksun bersama dengan laki-laki lain yang tidak lain tetangga dekat mereka dan orang yang juga sangat dekat dengannya.

“Aku lebih bahagia melihat teman-teman kesayanganku bahagia.”

Begitulah, kisah cinta Kim Junghwan berakhir menyedihkan. Meninggalkan harapan ribuan orang diluar sana yang tidak berubah menjadi kenyataan. Mengajarkan pada orang orang untuk bergerak cepat agar tidak terlambat selangkah. Kini tidak ada gunanya menyesalinya.

Lalu bagaimana cerita cinta Kim Junghwan bila ia mengungkapkan perasaannya pada Deoksun dengan serius?

.160206.

Sebulan sudah sejak drama ini selesai dan hingga sekarang saya belum sanggup untuk menonton episode terakhir. Dari awal menonton drama ini saya memutuskan untuk bergabung bersama #TeamJunghwan hati hingga akhir dan ternyata malah membuat saya seperti terjun dari atas gedung berlantai 100 πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Am I alone?

image

namuji’s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s