Obsession or Love?

image

Yunhee menggelengkan kepalanya seakan tidak bisa mengerti dengan tingkahku. “Sebegitu sukanya kah dirimu pada pria ini?”

Aku tersenyum lebar dan mengangguk. “Ya. Walaupun sudah bertahun-tahun menyukainya, hatiku masih selalu berdebar tiap melihat dia mendekat.”

“Kau sudah gila, Yongna ya. Wow temanku sudah tidak waras hanya karena seorang pria. Waw! Daebak!”

“Yunhee-ya.”

“Hmm?”

“Apakah aku terlalu terobsesi padanya?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Aku tidak tahu kau benar benar menyukainya atau hanya terobsesi. Tapi yang kulihat darimu, kau selalu membandingkan semua laki-laki yang ingin mengenalmu lebih jauh dengan pria itu. Dan kau apa yang terjadi? Kau membuat standar yang terlalu tinggi terhadap laki-laki yang ingin kau kencani sehingga tidak ada satu pun pria yang dapat memenuhi standarmu kecuali pria itu. Sadarlah Park Yongna, dunia kita berbeda dengan pria itu. Dia terlalu tinggi untukmu. Pria itu berbeda, sangat berbeda, dengan kita.”

Aku tertegun. Ya memang benar. Sejak aku mengenal pria itu, aku selalu membandingkan pria lain yang mendekatiku dengan pria itu. Tiba-tiba, seperti ada yang melemparkanku kebawah setelah sekian lama aku berada diatas langit, ada perasaan sedih menyelimuti hatiku. Rasanya aku ingin menangis.

Ada ribuan gadis lainnya yang juga memuja pria itu, bukan hanya diriku. Dia adalah sesuatu hal yang sangat mustahil untuk kuraih. Malah, biarpun aku berlari sekuat tenaga mengejarnya, pria itu, dia tidak akan pernah melihatku.

“Jadi, apa yang harus ku lakukan?”

Yunhee yang sedaritadi memunggungiku kemudian berbalik dan merangkul bahuku. 

“Dear, aku tidak pernah memintamu untuk berhenti menyukainya, adalah hal yang wajar bagi seseorang untuk menyukai seseorang lainnya dalam hidup ini. Tapi, kau jangan buat suatu standar yang terlalu tinggi terhadap pria lain. Lihat disekitarmu, ada banyak pria lain yang sebenarnya lebih baik namun karena matamu telah terpatri wajah pria itu kau tidak bisa melihat kelebihan pria lain itu.”

“Ya. Mungkin hanya aku yang terlalu terobsesi dengan pria ini.”

“Aku tidak pernah mengatakan ini obsesi, Yongna sayang.”

Aku tertawa. Yunhee segera membereskan buku pelajarannya dan mengajakku keluar dari perpustakaan. “Ayo, mungkin aku bisa mengenalkanmu pada salah satu teman laki-lakiku.”

Aku mendengus. “Aku tidak sebegitu depresinya, Choi Yunhee.”

“Oh, yasudah. Ayo, aku lapar.”

-151223-

Advertisements

2 thoughts on “Obsession or Love?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s