Laporan Hasil Praktikum Pembuatan, Pengenceran dan Pencampuran Larutan

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI TEKNIK LABORATORIUM

PEMBUATAN, PENGENCERAN DAN PENCAMPURAN LARUTAN

OLEH :

NAMA           : NABILA MUKMININAH JIBRIL

NIM               : G31113308

KELOMPOK  : II ( DUA)

ASISTEN       : RUSLAN

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2014

  1. PENDAHULUAN
  2. Latar Belakang

Kita telah mempelajari di dalam pelajaran kimia dikenal adanya larutan. Larutan  ini  sangat  penting  karena hampir  semua  reaksi  kimia  terjadi  dalam  bentuk  larutan. Larutan adalah sesuatu yang penting bagi manusia dan makhluk hidup pada umumnya. Reaksi-reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat.

Banyak reaksi kimia yang dikenal, baik di dalam laboratorium atau di industri terjadi di dalam larutan. Larutan pada dasarnya adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah besar disebut pelarut atau solvent. Sedangkan komponen dalam jumlah sedikit disebut zat terlarut atau solute.

Selain larutan di kenal juga konsentrasi larutan. Konsentrasi
merupakan Konsentrasi adalah kuantitas relatif suatu zat tertentu didalam larutan. Konsentrasi merupakan ukuran yang menggambarkan banyaknya
zat di dalam suatu campuran dua larutan atau lebih . Larutan
yang mengandung sebagian besar solute relatif terhadap pelarut,
berarti larutan tersebut konsentrasinya tinggi atau pekat. Sebaliknya bila mengandung sejumlah kecil solute, maka konsentrasinya rendah atau
encer. Konsentrasi larutan dalam kimia dapat dinyatakan dalam
molaritas, molalitas, normalitas, persen massa, persen volume, persen berat per volume dan parts per million.

Penting untuk mempelajari mengenai pengenceran pembuatan, dan
pencampuran larutan dengan konsentrasi yang berbeda. Oleh karena itu, perlu  dilakukan  praktikum   mengenai   pengenceran, pembuatan larutan agar praktikan mengerti cara membuat larutan dan pengenceran larutan.
Dalam praktikum ini pula, kita dapat mengetahui cara-cara ataupun prosedur ketika mencampurkan suatu larutan yang  mana   ukurannya telah   ditentukan

terlebih dahulu.

  1. Tujuan dan Kegunaan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah :

  1. Untuk mengetahui teknik pembuatan larutan.
  2. Untuk mengetahui bagaimana menentukan konsentrasi, Molaritas, dan Normalitas.
  3. Untuk mengetahui cara mengencerkan larutan.
  4. Untuk mengetahui cara mencampurkan larutan dan menentukan konsentrasinya.

Praktikum ini mempunyai kegunaan untuk mengetahui bagaimana cara membuat larutan dan cara mengencerkan suatu larutan. Sehingga dapat menjadi pengetahuan dasar bagi praktikan dalam membuat dan mengencerkan larutan pada praktikum selanjutnya.

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Larutan

Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih
zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang
komposisinya dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau
padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sejumlah kecil
solute, relatif terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah
larutan yang mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat
terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana solute
terlarut (Baroroh, 2004).

Bila dua atau lebih zat yang tidak bereaksi dicampur, campuran yang terjadi ada 3 kemungkinan, yaitu campuran kasar, disperse kolid,
dan larutan sejati. Dua jenis campuran yang pertama bersifat heterogen dan dapat dipisahkan seacara mekanis. Sedang larutan yang bersifat homogeny dan tidak dapat dipisahkan secara mekanis. Atas dasar ini campuran larutan didefinisikan sebagai campuran homogeny antara dua zat atau lebih. Keadaan Fisika larutan dapat berupa gas, cair, atau padat dengan perbandingan yang berubah-ubah pada jarak yang luas (Sukardjo, 1997).

Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutan yaitu pelarut
dan zat yang dilarutkan dalam pelarut tersebut. Zat yang dilarutkan itu
disebut zat terlarut (solute). Larutan yang menggunakan air sebagai
pelarut dinamakai larutan dalam air. Larutan yang mengandung
zat terlarut dalam jumlah yang banyak dinamakan larutan pekat. Jika
jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan cairan, padatan atau gas
sebagai zat yang terlarut. Larutan dapat berupa padat dan gas,
karena molekul-molekul gas berpisah jauh, molekul-molekul dalam campuran
gas berbaur secara acak, semua gas adalah larutan, contoh terbaik
larutan adalah udara (Karyadi, 1994).

Menurut Gunadarma (2011), konsentrasi larutan dalam kimia dinyatakan sebagai berikut :

  1. Molaritas (M)

Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam setiap liter larutan.

Molaritas Zat = w/Mr x 1000/v

  1. Normalitas (N)

Normalitas menyatakan jumlah ekivalen zat terlarut dalam setiap liter larutan.

N= gr ekivalen/liter larutan

  1. Molalitas (m)

Molalritas adalah jumlah mol zat terlarut dalam setiap kilogram larutan.

m = gr/Mr

  1. Persen massa %(b/b)

Adalah berat bahan yang terkandung dalam 100 gram larutan.

%(massa) = gr/100 gr x 100%

  1. Persen volume %(v/v)

Adalah volume bahan yang terkandung di dalam 100 ml larutan.

%(volume) = ml/100 ml x 100%

  1. Persen berat per volume %(b/v)

Adalah berat bahan yang terkandung di dalam 100 ml larutan.

%(b/v) = gr/100 ml x 100%

Pengenceran

Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi
tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir
yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat
diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama
dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini
dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus
ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan
ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar
yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan
asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam
sulfat ini merusak kulit (Brady, 2000).

Rumus pengenceran menurut Gunawan (2004) yaitu :

M1V1 = M2V2

Ket:

M1 = molaritas awal larutan                  V1 = volume awal larutan

M2 = molaritas akhir larutan                 V2 = volume akhir larutan

Konsentrasi

Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi
zat terlarut dan pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya
dinyatakan dalam perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah
total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi
adalah molar, molal, dan bagian per juta (part per million, ppm).
Sementara itu, secara kualitatif, komposisi   larutan  dapat  dinyatakan  sebagai  encer  (berkonsentrasi rendah) atau pekat yang berkonsentrasi
tinggi (Anonim, 2014).

Pembuatan Larutan

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari cara
pembuatan larutan dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi
tertentu. Untuk menyatakan kepekaaan atau konsentrasi suatu larutan
dapat di lakukan berbagai cara tergantung pada tujuan
penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk    menentukan      kepekaan   larutan    adalah molaritas. Molaritas,      persen     berat, persen

volume, atau sebagainya (Faizal,2013).

Molaritas

Molaritas (M) adalah suatu konsentrasi yang mengukur banyaknya
mol zat terlarut dalam suatu liter larutan. Dapat di tulis dengan rumus :

M= mol zat terlarut atau M = mol Liter larutan V

Membuat suatu larutan untuk suatu eksperomen dapat dilakukan dengan melarutkan zat padat (kristal) atau dengan melakukan pengenceran larutan konsentrasi tinggi menjadi konsentrasi rendah (Ahmadun, 2013).

Normalitas

Normalitas yang bernotasi (N) merupakan satuan konsentrasi
yang sudah memperhitungkan kation atau anion yang dikandung
sebuah larutan. Normalitas didefinisikan banyaknya zat dalam
gram ekivalen dalam satu liter larutan. Secara sederhana gram ekivalen adalah jumlah gram zat untuk mendapat satu muatan. Sebagai contoh: 1 mol H2SO4 dalam 1 liter larutan, H = 1, S = 32 dan O = 16, kita dapat tentukan gram ekivalennya. Dalam hal ini kita telah mengenal konsep ionisasi. 1 mol H2SO4 = 98 gram. (Anonim, 2013).

Natrium Hidroksida (NaOH)

(NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium
hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida
terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air.
Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika
dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang
industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi
bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia (Hasugian, 2012).

Asam Klorida (HCl)

HCl adalah asam kuat, dan memisah sepenuhnya dalam air.
HCl dibentuk oleh ikatan kovalen antara ion hidrogen dan klorida.
HCl memiliki banyak kegunaan komersial, termasuk penggunaan
dalam produksi baja dan dalam produksi obat-obatan. Selain itu, HCl digunakan oleh perut untuk mengaktifkan enzim yang memecah protein. Kimotripsin dan pepsin adalah dua enzim ini, dan kehadiran HCl akan memungkinkan enzim ini menjadi aktif dan mempercepat proses pencernaan. (Sridianti, 2014).

Asam Asetat (CH3COOH)

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa
kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan
aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan
sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi
ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahann baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1,5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati (Ihsan, 2013).

Natrium Asetat (CH3COONa)

Natrium asetat adalah elektrolit kuat sehingga terionisasi sempurna. Konsentrasi ion CH3COO dalam larutan sebetulnya berasal dari asam asetat dan natrium asetat. Karena pengaruh CHCOOdari garam mendesak ionisasi CH3COOdalam larutan. Senyawa ini merupakan zat kimia berharga
terjangkau yang diproduksi dalam jumlah industri untuk berbagai
keperluan (Esvandiari, 2008).

Pencampuran Larutan

Pencampuran larutan merupakan penggabungan dua zat atau lebih yang jenisnya sama. Namun larutan tersebut mempunyai konsentrasi yang berbeda. Pencampuran tidak menyebabkan adanya perubahan fisik. Pada proses pencampuran beberapa jenis zat berlaku rumus (Salirawati, 2007):

Dimana :

V1 = volume larutan pertama               V2 = volume larutan kedua

M1 = molaritas larutan pertama            M2 = molaritas larutan kedua

Parts Per Million (Ppm)

PPM (Part per Million) atau dalam bahasa Indonesianya “Bagian per Sejuta Bagian” adalah satuan konsentrasi yang sering dipergunakan dalam di cabang Kimia Analisa. Satuan ini sering digunakan untuk menunjukkan kandungan suatu senyawa dalam suatu larutan misalnya kandungan garam dalam air laut, kandungan polutan dalam sungai, atau biasanya kandungan yodium dalam garam juga dinyatakan dalam ppm. Konsentrasi ppm merupakan perbandingan antara berapa bagian senyawa dalam satu juta bagian suatu sistem. Sama halnya denngan “persentase” yang menunjukan bagian per seratus. Konversi satuannya (Irawan, 2010):

1 ppm = 1000 ppb

1 ppb = 1/1000 ppm

1 ppm = 1 mg/L

III. METODE PRAKTIKUM

  1. Tempat dan Waktu

Praktikum Aplikasi Teknik Laboratorium dengan judul Pembuatan
Larutan dengan Konsentrasi Tertentu dalam Bentuk Molaritas dan
Normalitas dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 24 September 2014 pukul 08.00 – 11.00 WITA di Laboratorium Analisis  Pangan,  Program  Studi   Ilmu   dan    Teknologi    Pangan,    Fakultas    Pertanian,   Universitas    Hasanuddin,

Makassar,  Sulawesi Selatan.

  1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

  • labu takar
  • bulp
  • erlemeyer
  • gelas kimia
  • timbangan analitik
  • batang pengaduk
  • pipet tetes
  • botol You C/ Botol Kaca

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

  • NaOH
  • CH3COONa
  • aquadest
  • aluminium Foil
  • CH3COOH

 

Prosedur Praktikum

Prosedur untuk membuat larutan adalah sebagai berikut:

  1. Hitunglah jumlah bahan kimia yang dibutuhkan untuk membuat larutan.
  2. NaOH 0,35 N sebanyak 50 mL
  3. NaOH 6 M sebanyak 50 mL
  4. NaOH 2,5 M sebanyak 50 mL
  5. NaOH 0,1 M sebanyak 100 mL
  6. CH3COONa 0,2 M sebanyak 50 mL
  7. Bahan ditimbang dengan menggunakan gelas kimia pada timbangan digital sesuai dengan jumlah bahan kimia yang telah dihitung sesuai dengan prosedur no.1
  8. Bahan yang sudah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu takar dan ditambahkan dengan aquadest hingga tanda tera.
  9. dikocok hingga homogen lalu masukkan ke dalam botol kaca yang telah disediakan.

Prosedur untuk pengenceran larutan adalah sebagai berikut:

  1. Hitunglah jumlah bahan kimia yang dibutuhkan untuk membuat larutan.
  2. HCl 0,2 M sebanyak 50 mL
  3. HCl 3% sebanyak 50 mL
  4. HCl 0,1 sebanyak 50 mL
  5. HCl 0,35 M sebanyak 50 mL
  6. CH3COOH 0,2 M sebanyak 50 mL
  7. Bahan ditimbang dengan menggunakan gelas kimia pada timbangan digital sesuai dengan jumlah bahan kimia yang telah dihitung sesuai dengan prosedur no.1
  8. Bahan yang sudah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam labu takar dan ditambahkan dengan aquadest hingga tanda tera.
  9. Dikocok hingga homogen lalu masukkan ke dalam botol kaca yang telah disediakan.

Prosedur praktikum untuk pencampuran dua larutan adalah:

  1. Diambil HCl 0,35 M dan dipipet sebanyak 20 mL
  2. Diambil HCl 0,1 M dan dipipet sebanyak 30 mL
  3. Bahan yang sudah dipipet kemudian dimasukkan kedalam labu takar.
  4. Dihomogenkan lalu dipindahkan ke botol kaca yang telah disediakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil
Hasil yang di peroleh dari praktikum pembuatan dan pengenceran
larutan dan pencampuran larutan dengan konsentrasi berbeda adalah sebagai berikut:

Tabel 01. Hasil Pembuatan dan Pengenceran Larutan

No Larutan Konsentrasi Massa V. Akhir V. Zat Terlarut
1 NaOH 0,7 gr 50 ml
HCl 0,2 N 50 ml
2 NaOH 12 gr 50 ml
HCl 3% 50 ml
3 NaOH 5 gr 50 ml
HCl 0,1 M 50 ml
4 NaOH 0,4 gr 100 ml
HCl 0,35 M 100 ml
5 CH3COONa 0,82 50 ml
CH3COOH 0,2 M 100 ml
Sumber: Data Sekunder Praktikum Teknik Laboratorium
Tabel 02. Praktikum Pencampuran LarutanIod
No Larutan Larutan 1 Larutan 2 Larutan 3
M1 V1 M2 V2 M3 V3
1 NaOH 0,35 M 20 ml 0,1 M 30 ml 0,2 M 50 ml
2 HCl 0,35 M 20 ml 0,1 M 30 ml 0,2 M 50 ml
3 NaOH 6 M 20 ml 2,5 M 30 ml 3,5 M 50 ml
4 NaOH 0,1 M 20 ml 0,35 M 30 ml 0,25 M 50 ml
5 HCl 0,35 M 20 ml 0,1 M 30 ml 0,2 M 50 ml
Sumber : Data Sekunder Praktikum Teknik Laboratorium

Pembahasan

Larutan adalah campuran antara dua zat atau lebih. Suatu campuran dapat dikatakan sebagai larutan apabila telah homogen sehingga tidak dapat dibedakan lagi antara pelarut dan zat terlarut. Hal ini sesuai dengan
Baroroh (2004) yang menyatakan bahwa larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi.

Pengenceran adalah penambahan zat terlarut sehingga jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut
sesudah pengenceran. Hal ini sesuai dengan Brady (2000) yang
menyatakan bahwa proses pengenceran adalah mencampur larutan
pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar.

Pembuatan NaOH dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah bahan kimia yang dibutuhkan untuk membuat larutan NaOH 6 M
sebanyak 50 mL dengan cara pertama menghitung jumlah mol zat
terlarut per liter larutan. Setelah itu kalikan jumlah mol zat terlarut
tersebut dengan massa relatif NaOH. Setelah hasil
akhir di dapatkan yaitu 12 gram, bahan ditimbang dengan menggunakan
gelas kimia pada timbangan analitik dan dimasukkan ke dalam labu
takar dan ditambahkan dengan aquadest hingga tanda tera. Aduk
dengan batang pengaduk. Homogenkan dan masukkan kedalam
botol kaca. Hal ini sesuai dengan Baroroh (2004) yang menyatakan larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih
zat yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang
komposisinya dapat bervariasi.

Pengenceran larutan HCl dapat dilakukan dengan menghitung
jumlah bahan kimia yang dibutukan untuk membuat larutan
HCl 3% sebanyak 50 ml. Dihitung menggunakan rumus pengenceran, yaitu molaritas akhir dikali volume akhir kemudian dibagi dengan nilai molaritas awal. Didapatkan hasil 4,05. Setelah itu timbang HCl sebanyak 4,05. Bahan yang sudah di timbang dimasukkan ke dalam labu ukur kemudian tambahkan aquadest hingga batas tera. setelah itu homogenkan dan dimasukkan ke dalam botol kaca lalu diberi label. Hal ini sesuai dengan Brady (2000) yang menyatakan pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir
yang lebih besar.

Konsentrasi HCl yang di buat adalah 3% sebanyak 50ml dan konsentrasi pada NaOH adalah 6 M sebanyak 50 mL yang nantinya akan diencerkan dengan menggunakan aquades. Hal ini sesuai dengan Anonim (2014) yang menyatakan konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan pelarut di dalam larutan.

Pencampuran dapat dilakukan dengan memipet larutan
HCl 0,35 M sebanyak 20 mL dan masukkan kedalam labu takar.
Kemudian ambil HCl 0,1 M dipipet sebanyak 30 mL dan dimasukkan
kedalam labu takar yang sama dengan larutan HCl 0,35 M tadi.
Setelah itu homogenkan larutan tadi dan pindahkan kedalam botol uc atau botol kaca. Hitung molaritas larutan hasil pencampuran itu dengan menggunakan rumus pencampuran. Molaritas dari pencampuran itu
adalah 0,2 M. Hal ini  sesuai dengan Salirawati (2007) yang menyatakan bahwa pencampuran adalah merupakan penggabungan dua zat atau lebih yang jenisnya sama, tetapi konsentrasinya berbeda.

 

 PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Teknik pembuatan larutan dapat di lakkan dengan cara mencampurkan dua larutan atau lebih.
  2. Menentukan konsentrasi sebuah larutan dapat dilakukan dengan membandingkan volume konsentrasi dan normalitas sebelum dan sesudah dilarutkan.
  3. Teknik pengenceran larutan yang benar adalah mencapur larutan dengan bahan pelarut murni agar diperoleh volume konsentrasi yang lebih rendah.
  4. Teknik mencampurkan larutan adalah dengan mencampurkan dua larutan atau lebih dengan konsentrasi yang berbeda hingga tidak padapat dibedakan lagi secara fisik.
  1. Saran

Pada praktikum ini dibutuhkan pemahaman prosedur kerja dan ketelitian dalam menghitung dan menimbang bahan. Oleh karena itu pemahaman dan ketelitian perlu di tingkatkan.

 

Advertisements

9 thoughts on “Laporan Hasil Praktikum Pembuatan, Pengenceran dan Pencampuran Larutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s