[140428] Grow Up

large

Ada yang berubah, tapi aku masih seperti ini. Tidak ada yang berubah dariku kecuali tubuhku yang bertambah tinggi, tetapi otakku masih tertinggal di usia 13 tahun.

Ada yang bahagia, tapi aku punya bahagia versi bahagiaku sendiri. Tidak perlu barang mewah dan mahal, aku lebih bahagia jika seseorang memberiku hadiah adalah orang yang kusayangi.

Ada yang menangis karena galau cinta ataupun putus cinta, tapi aku tidak pernah menangis karena cinta. Ada banyak hal yang kupikir lebih baik di tangisi daripada lelaki.

Ada yang sedang jatuh cinta, tapi aku hanya jatuh cinta pada seseorang yang hanya kulihat dari layar komputerku. Dan aku tidak keberatan bila orang lain juga menyukainya. Kami berbagi.

.

.

Entahlah, aku selalu berpikir umurku masih 13 tahun. Tapi ketika ku temukan sebuah foto seorang bayi perempuan di dinding facebooknya, aku mulai menyadari kami (semua 95liner) bukan anak kecil lagi. Bayi itu adalah bayi dari teman sepermainanku sejak kecil.

Rasanya baru kemarin kami berkenalan disaat usia kami masih sangat kecil. Sekolah di sekolah yang sama hingga lulus sekolah dasar. Dan sejak itu kami tidak pernah bertemu hingga sekarang ku tahu dia sudah mempunyai bayi.

Pemikirannya sudah dewasa, tidak seperti ku yang masih ingin bermain dan belum siap mengahadapi masa depan. Kalau bisa, aku hanya ingin hidup bersama Ibuku sampai aku meninggal nanti. Kalau bisa aku ingin meninggal bersama Ibuku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika tidak ada Ibu.

Dan hal itu membuatku takut untuk bertumbuh dewasa. Kalau bisa aku ingin seperti Peterpan yang tidak pernah tua atau The Boy Who Wouldn’t Grow Up. Aku tidak ingin menjadi dewasa. Aku masih ingin menjadi muda tanpa beban seperti saat aku masih di taman kanak-kanak.

Aku ingin bertemu dengan nenekku lagi. Pergi sekolah bersama-sama dengan sepupuku yang saat itu kami masih ber-6, kurcaci-kurcaci lainnya belum lahir saat itu. Sehingga cucu nenekku cuma kami ber-6 dan perhatiannya tidak terbagi banyak seperti saat ini, cucu nenekku sekarang ada 14.

Aku ingin kembali di masa kanak-kanakku. Kata Ibu, dulu aku tidak punya malu -_-, aku bisa menyanyi di depan tetanggaku tanpa malu. Dulu, aku sangat takut melihat alat pengangkut barang-barang di supermarket karena dulu aku melihat mesin itu kelihatan seperti robot yang akan menghantamku jika aku berada di dekatnya.

..

..

..

..

Entahlah, mungkin aku hanya tidak ingin menjadi dewasa.

.

.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s