[ Fanfiction ] A Girl in The Library

Cover3

Author : Oncemelody

Casts : Kim Joonmyun ( Suho EXO ) , Kim Jongin ( Kai EXO ) , Do Kyungs00 ( D.O EXO ) , and Park Injoo (OC)

Genre : Romance, Fluff

Lenght : Oneshoot

Recommed Song : Justin Bieber – Catching Feeling

A/N : Maafkan saya kalo ceritanya membosankan dan tadi baru dibuat langsung di post setelah selesai. Jadi tidak di edit dan typo bertebaran.

Happy Reading . RCL kalo bisa ^^

***

“Apa kau sedang sakit, Kim Joonmyun?”

Joonmyun menggelengkan kepalanya. Kim Jongin, teman sekolahnya, menatap Joonmyun tidak percaya.

“Apakah salah jika aku menyukainya?”

Jongin menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat datar. Joonmyun jelas-jelas sangat polos. Seluruh penghuni sekolah juga tahu, bahwa Park Injoo sangat sulit untuk di dapatkan. Ya, sangat sulit jika kau menginginkan gadis itu menjadi kekasihmu.

“Dia itu seperti patung. Tersenyum sangat jarang, apalagi berbicara. Ku dengar dia hanya berbicara jika sedang bersama Park Chanyeol. Aku tak tahu kenapa dia hanya ingin berbicara pada cowok jangkung itu. Apa mungkin karena mereka bermarga sama? Aku tak yakin.”

Joonmyun tidak lagi mendengarkan celoteh Jongin tentang opininya mengenai Park Injoo. Pandangannya kini beralih pada seorang gadis yang sedang berjalan tak jauh darinya dan Jongin. Joonmyun bahkan harus menutup mulut Jongin ketika Injoo melewati mereka.

Jantung Joonmyun berdetak tak karuan saat matanya bertemu pandang dengan Injoo. Gadis itu juga langsung menundukkan kepalanya setelah kontak mata mereka berakhir. Joonmyun bisa melihat pipi gadis itu memerah, malu mungkin.

“Dia memandangku.”

“Lalu kenapa kalau dia memandangimu?” Jongin menatap Joonmyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sepertinya kau tidak sakit. Tapi kau sudah gila.”

Ya, Joonmyun menyukai pernyataan itu. Dirinya memang sudah gila. Karena gadis itu membuatnya tidak bisa berpikir normal selama beberapa hari terakhir.

Sebelum-sebelum ini, Joonmyun sering bertemu atau bisa dibilang tidak sengaja bertemu saat dia ditugasi oleh guru untuk mengambil buku pelajaran tambahan di perpustakaan. Dia memang tidak mengalami cinta pada pandangan pertama pada gadis itu.

Tetapi saat melihat gadis itu sedang tersenyum sambil membaca sebuah buku di perpustakaan, Joonmyun tahu hatinya telah jatuh untuknya. Joonmyun mengabaikan pernyataan Jongin yang mengatakan bahwa gadis itu tidak pernah tersenyum. Karena dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa gadis itu bisa tersenyum.

“Dimana ketua kelas?” sang guru bertanya pada seluruh penghuni kelas itu. “Tolong ambilkan buku di perpustakaan, ketua kelas.”

Sayangnya Kris, sang ketua kelas yang dimaksud sedang berhalangan hadir. Dan Joonmyun senang kerena itu. Bukan, dia bukan senang karena Kris sakit melainkan karena dia sebagai wakil ketua kelas. Berarti tugas Kris mengambil buku otomatis bergeser padanya.

“Ya, Kim Joonmyun, tolong ambilkan buku ini,” pinta sang guru ketika Joonmyun mengacungkan tangan kanannya.

Joonmyun tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju perpustakaan di samping laboratorium biologi. Entah sejak kapan jantungnya mulai berdatak kencang lagi. Rasanya dia ingin mengeluarkan jantungnya dari tempatnya sekarang.

Perkiraan Joonmyun sangat tepat. Gadis itu berada disana lagi. Joonmyun tak tahu, apakah gadis itu tidak ada pelajaran sehingga setiap hari berada di perpustakaan. Joonmyun lalu mengatakan sesuatu pada penjaga perpustakaan dan sang penjaga perpustakaan mengangguk mengerti dan menghilang di balik ruang yang berada di dekat sana.

Sementara menunggu, Joonmyun mengalihkan pandangannya pada Injoo yang sedang mencari buku di balik rak-rak tinggi itu. Kakinya berjalan otomatis saat melihat gadis itu kerepotan mengambil sebuah buku di bagian rak atas.

Joonmyun sadar dirinya tidak setinggi Kris, si pemain basket sekolah ataupun tidak setinggi Park Chanyeol, gitaris di sebuah band di sekolah juga. Kim Joonmyun hanya bisa mengambil sebuah bangku dan meletakkannya di samping gadis itu. Joonmyun mengacuhkan tatapan heran dari gadis itu. Dia lantas naik di atas bangku itu dan mengambil buku yang diinginkan Injoo tadi.

“T-Terima kasih, Joonmyun-sshi.”

Jantung Joonmyun berdetak gila dua kali lipat saat mendengar gadis itu mengucapkan namanya. Gadis itu tahu namanya. Memikirkannya saja membuat Joonmyun tidak dapat berhenti tersenyum.

“Kau tahu namaku?”

Gadis itu mengangguk dan kembali menatap ke bawah. “Teman-temanku sering membicarakanmu. Ku rasa mereka mengidolakanmu.”

Telinga Joonmyun menikmati setiap kata-kata yang terucap dari mulut gadis yang disukainya itu. “Benarkah? Kau tidak ada pelajaran?” tanya Joonmyun lagi.

“Kelasku kosong,” jawab Injoo lirih dan masih tak berani menatap Joonmyun. Joonmyun masih ingin mengorek lebih banyak informasi tentangnya tapi sang penjaga perpustakaan sudah memanggil namanya.

“Sekali lagi terima kasih Joonmyun-sshi.”

Joonmyun tersenyum pada gadis itu sebelum menghadap sang penjanga perpustakaan dengan setumpuk buku di depannya.

Tidak ada yang bisa membuat Joonmyun berhenti tersenyum setelah kembali dari perpustakaan. Bahkan sang guru sempat salah tingkah melihat Joonmyun tersenyum.

“Berhenti tersenyum seperti itu Kim Joonmyun,” tegur Kyungsoo yang duduk disebelahnya. Tapi Joonmyun seperti orang tuli, malah senyumnya itu semakin merekah hingga rasanya bibirnya akan sobek sewaktu-waktu.

“Kau gila.”

Dua kata terakhir dari Kyungsoo itu menambah daftar orang yang menyebutkan dirinya gila. Setelah itu Joonmyun kembali focus pada pelajarannya tetapi sedetik kemudian dia sudah mengabaikan pelajaran itu dan mengukir sebuah nama di halaman terakhir bukunya. Park Injoo.

“Jangan katakan, kau menyukai gadis itu.”

Tiba-tiba suara Kyungsoo membuyarkan pikiran Joonmyun. Ternyata sedari tadi, Kyungsoo memperhatikan Joonmyun menulis sesuatu di bukunya.

“Aku menyukainya, memang.”

“Yah, ku akui dia memang tidak jelek dan dia mempunyai tubuh yang ideal. Tapi dia itu…aneh.”

Joonmyun tahu itu. Harus berapa orang yang mengatakan hal itu? Joonmyun bosan mendengarnya. Joonmyun tahu gadis itu jarang bersosialisasi dengan teman-temannya bukan karena dia tak mau dan sombong tetapi gadis itu tidak memiliki rasa percaya diri. Joonmyun tahu jika gadis itu lebih suka menyendiri di perpustakaan daripada mengikuti teman-temannya nongkrong di kantin. Joonmyun juga tahu, gadis itu sangat menyukai buku. Makanya dia lebih suka berada di perpustakaan daripada di tempat lain.

Apa salahnya menyukai gadis seperti itu. Dia juga manusia. Punya hati, pastinya.

“Aku tahu. Tapi aku menyukainya. Dengan keanehannya dan semua tentangnya.”

“Ya,ya,ya. Tidak ada yang berhak melarangmu menyukainya tapi masih banyak yang lebih cantik dibandingkan dia yang cocok untukmu,” sahut Kyungsoo, terlihat bersemangat.

“Cobalah mendekati Jung Soojong dari kelas sebelah. Dia itu memang terlihat dingin diluar tapi dia sebenarnya gadis yang ramah dan baik hati.”

Joonmyun tertawa dalam hati. Jelas sekali jika Kyungsoo tak tahu apapun tentang Park Injoo. Kyungsoo tidak tahu jika Injoo juga terlihat aneh diluar tetapi dia sebenarnya memiliki pribadi yang menyenangkan. Menyukai seseorang memang membuatmu menjadi serba tahu semua yang menyangkut orang yang kau sukai.

“Kalau begitu mengapa kau tidak meminta Jung Soojung itu menjadi pacarmu?” Tanya Joonmyun skeptis. Kyungsoo menggaruk tengkuknya.

“Ya… kalau itu…”

Kyungsoo tak mampu melanjutkan perkataannya. Dan saat itu pula suara sang guru terdengar ke seluruh ruang kelas.

“Jadi, Tuan Do Kyungsoo dan Tuan Kim Joonmyun bisakah kalian mengulangi apa yang telah ku jelaskan tadi?”

***

Joonmyun terpaksa pulang agak lambat hari ini. Park Jungsoo, sang ketua osis, mengharapkan seluruh ketua kelas ataupun wakil dari masing masing kelas berkumpul di ruang secretariat. Mereka akan mengadakan rapat yang beragendakan rencana acara prom tahunan.

Rapat itu berlangsung sekitar satu setengah jam dan saat Joonmyun berjalan ke gerbang, langit sudah berubah menjadi gelap. Langkah Joonmyun otomatis berhenti saat melihat Park Injoo sedang bersandar di tembok gerbang sambil membaca sebuah novel di tangannya.

Entah keberanian dari mana Joonmyun mulai mendekati Park Injoo dan menyapanya. Yongna tersentak kaget saat melihat Joonmyun sudah berdiri di sampingnya.

“Oh, Joonmyun-sshi.”

“Apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum pulang?” tanya Joonmyun dengan nada yang ramah. Tak lupa senyum menghiasi wajahnya.

“Oh itu aku terlalu asyik membaca buku di perpustakaan, hingga lupa melihat jam,” jawab gadis itu kaku. Joonmyun bisa merasakan gadis itu merasa gugup. Dia tidak tahu jika Joonmyun sama gugupnya dengan dirinya. Joonmyun lalu bertanya di mana rumah Yongna.

“Kalau begitu kita bisa pulang bersama. Kebetulan rumahku searah dengan rumahmu,” ajak Joonmyun. Gadis itu terlihat malu-malu saat mengikuti langkah Joonmyun. Novel yang dibacanya tadi sudah masuk kedalam tasnya.

“Jangan berjalan dibelakangku, aku tidak bisa melihatmu,” sahut Joonmyun dan berbalik menatap Injoo. Gadis itu berbelalak kaget saat Joonmyun menggenggam tangannya. Tetapi dia tidak mengatakan apapun. Mereka berjalan dalam diam dengan tangan terkait satu sama lain.

“Masuklah. Aku akan pergi setelah melihatmu masuk,” ujar Joonmyun saat mereka telah sampai di sebuah rumah mungil dan terlihat nyaman dengan halaman yang luas.

“Baiklah, terima kasih Joonmyun-sshi.”

Joonmyun hampir tak percaya ketika sekali lagi dia melihat gadis itu tersenyum. Joonmyun sudah pernah lihat senyuman itu sekali, tetapi yang membuatnya merasa bahagia adalah senyuman itu diberikan untuknya. Untuk dirinya. Untuk Kim Joonmyun. Seandainya Joonmyun mempunyai sayap, mungkin dia sudah terbang melayang diudara saking bahagianya.

Semua terasa seperti mimpi bagi Joonmyun. Dia masih menganggap kejadian itu mimpi saat Kim Minseok, kakak laki-lakinya membangunkannya keesokan paginya.

“Jangan melamun terus. Makan makananmu.”

Joonmyun segera mematuhi perintah kakaknya itu dan bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Sebuah keinginan telah memenuhi otak dan hatinya kini. Ketika dia mengatakan keinginannya itu pada Jongin, Jongin hampir membuat telinganya rusak.

“Apa? Kau benar-benar sudah gila,” teriak Jongin sinting. Matanya sudah hampir keluar dari kepalanya saking kagetnya. Tapi Joonmyun lebih kaget lagi mendengat teriakan Jongin itu.

“Aku serius, Jongin. Kau harus membantuku.”

“Apakah ini akan berhasil?” tanya Jongin memastikan.

“Aku pikir jika kamu mencintai orang itu dengan tulus, itu akan selalu berhasil, juga jika kau berusaha untuk itu,” jawab Joonmyun pasti. Jongin pasrah dan mau tak mau membantu sahabatnya itu.

“Cinta bisa membuatmu buta.”

Joonmyun tertawa mendengar ucapan Jongin. Tetapi Joonmyun memiliki pemikiran berbeda, menurutnya bukan cinta yang buta, tapi orang yang bercinta itulah yang terkadang menjadi buta mata hatinya karena cinta, sehingga dapat melakukan hal-hal yang gila.

“Kau, pergilah. Aku akan membawanya kehadapanmu.”

Setelah berkata seperti itu, Kim Jongin berlalu meninggalkan Joonmyun sendiri. Joonmyun sudah memantapkan hatinya hari ini. Dan dia tidak ingin memendam perasaannya lebih lama lagi.

***

Seperti biasa, Injoo sedang berada di perpustakaan saat Kim Jongin menghambur masuk dan sedikit menciptakan jeritan kecil dari para wanita yang sedang berada di perpustakaan. Sang penjaga perpustakaan mendelik kesal ke arah Jongin untuk itu.

Kim Jongin adalah salah satu idol di sekolah ini. Bisa dibilang sekolah ini dipenuhi oleh idola-idola yang sedikit banyak berpengaruh di kalangan murid-murid. Seperti Kris, Chanyeol, Jongin, Baekhyun si Eyeliner Boy, Luhan si Baby Deer’, termasuk Kim Joonmyun itu.

Jongin membungkuk meminta maaf.pada penjaga perpustakaan sebelum menarik tangan Injoo keluar dari perpustakaan. “Ikut aku dan jangan membantah.”

Kata-kata Jongin itu membuat Injoo menutup mulutnya dan memilih mengikuti langkah Jongin yang besar-besar. Ternyata Jongin membawanya ke tengah lapangan dan telah banyak murid-murid yang berada disana.

Injoo menundukkan kepalanya serendah mungkin. Mungkin setelah hari ini berakhir, dia akan mendapat tekanan dari fans Jongin karena saat ini Jongin menggenggam tangannya sangat erat. Mereka tidak akan membiarkan Injoo hidup tenang setelah ini. Jongin berhenti secara mendadak dan membuat Injoo menabrak punggungnya yang keras.

***

Joonmyun merasa kakinya tidak menapak di tanah lagi saat Jongin datang membawa Injoo bersamanya. Injoo menundukkan kepalanya dan bersembunyi di balik punggung Jongin.

Murid-murid semakin banyak berdatangan atau sekedar melihat dari koridor kelas untuk melihat dan menunggu apa yang akan dilakukan Kim Joonmyun di tengah lapangan. Entah apa yang dilakukan Kyungsoo hingga bisa mengumpulkan massa sebanyak ini. Lain kali, Joonmyun akan memberikan sesuatu yang special untuk kedua sahabatnya itu.

“Selesaikan ini dengan cepat, Kim Joonmyun.”

Joonmyun mengangguk. Jongin melepaskan genggamannya pada tangan Injoo dan memberikannya pada Joonmyun. Untuk kedua kalinya Joonmyun merasa gembira karena menggenggam tangan Injoo.

“Lihat aku, Park Injoo,” pinta Joonmyun lembut. Karena tidak ada tanda-tanda Injoo akan mengangkat wajahnya, Joonmyun mengangkat wajah gadis itu hingga dia bisa melihat wajah Injoo.

“Aku tahu ini tidak membuatmu nyaman sama sekali. Tapi aku mohon injinkanlah aku mengatakan ini padamu,” kata Joonmyun dengan suara lantang.

Seiring dengan detak jantungnya yang mulai menggila, Joonmyun akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Injoo. “Aku menyukaimu Park Injoo. Aku mencintaimu, terimalah perasaanku.”

Joonmyun tahu ini terkesan sedikit memaksa. Ini adalah mimpinya, mengungkapkan perasaannya di depan orang banyak. Waktu seakan berjalan sangat pelan saat Joonmyun menunggu jawaban Injoo.

“A-aku juga m-menyukaimu.”

Tidak ada yang lebih melegakan daripada jawaban lirih yang diberikan Injoo itu. Terdengar suara tepuk tangan dari seluruh murid. Namun ada beberapa murid perempuan menangis karena patah hati melihatnya.

“Jadi pacarku ya?”

Injoo mengangguk. “Ya.”

Joonmyun menarik Injoo kedalam pelukannya. Rasa bahagianya tercurah seluruhnya. Tapi drama itu tidak berlangsung lama karena guru Choi sudah mencak-mencak membubarkan kerumunan murid-murid. Joonmyun sekali lagi menarik Injoo pergi dari lapangan karena guru Choi kelihatan tidak segan-segan memukul murid yang masih bertahan di sana.

“Kim Joonmyun!”

“Ya?” Joonmyun memutar kepalanya ke arah Injoo.

“Aku juga mencintaimu,” ucap Injoo malu-malu.

“Ya, aku tahu. Aku selalu tahu.”

KKEUT

May, 27th 2013 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s