[Fanfiction] Promise

cropped-tumblr_ksrxuv9p9c1qzx5hxo1_500.jpg

Author : Dennha Park ( @oncemelody )

Tittle : Promise

Cast : Yook Sungjae and Park Yongna (OC)

Genre : Angst, Romance (?)

Rating : G

Length : Oneshoot

Author’s Note : Cerita ini pernah di post di salah satu site dengan cast Cho Kyuhyun. Castnya punya masing-masing ya tapi plotnya punya saya :^)

***

“Kau berjanji akan kembali ‘kan?”

Dia bertanya padaku dengan nada lirih. Tiba-tiba saja dadaku sesak. Aku ingin berjanji. Tapi sudah banyak janji yang tidak bisa ku tepati dengannya. Dia selalu menyuruhku untuk berjanji dan itu membuatku lelah.

“Berjanjilah, ku mohon. Setidaknya aku bisa bertahan selagi kau berjanji.”

Selalu alasan itu yang dia katakana ketika aku ragu berjanji padanya. Aku tidak suka seperti ini. Dia terus membuatnya menunggu akan hal yang tidak pasti. Ku pandangi wajahnya. Terlukis raut penuh harap disana dan tak lupa di menyunggingkan sebuah senyuman kecil padaku.

Saat menatap matanya, otakku berkerja secara otomatis dan memberikan jawaban yang sedari tadi dia inginkan, “Aku berjanji.”

Dalam sekali tarikan di bahuku, aku sudah tenggelam di dalam pelukannya. Kepalaku sudah bersandar di dadanya dengan nyaman. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku. Aku menyukainya, pelukannya.

“Aku tidak peduli seberapa banyak kau sudah mengingkari janji mu padaku. Yang ku butuhkan adalah kau berjanji padaku walaupun akhirnya kau tidak menepatinya. Hanya janjimu.”

Kau bodoh. Aku merutuki diriku sendiri. Laki-laki ini begitu menyayangiku. Aku tahu itu. Dia tidak pernah marah sekalipun aku membuatnya kecewa. Dia akan diam beberapa saat sebelum akhirnya dia memelukku dan bertingkah seolah aku tidak pernah berbuat salah padanya, menyakitinya.

Dia melepaskan pelukannya dan menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajahku ke belakang telingaku. Lagi-lagi dia memasang senyum itu. Dia sudah terlalu banyak terluka.

Lalu terdengar suara panggilan untuk penumpang pesawat yang akan berangkat ke Jepang. Pesawat yang akan membawaku pergi dari sini. Meninggalkan lekaki itu. Aku menoleh padanya.

“Aku akan menunggu janjimu.”

Dia mendorongku hingga sampai di pintu pemeriksaan tiket. Terbesit rasa tidak rela di dalam hatiku. Aku tidak rela meninggalkannya. Bagaimana jika beberapa hari aku pergi dia tidak bisa lagi bertahan menungguku dan memutuskan untuk berbalik meninggalkanku. Aku takut.

Aku memandangnya lagi dan mencengkram ujung jaketnya. Seakan bisa membaca ketakutanku, dia berkata, “Tidak. Kali ini aku juga akan berjanji padamu. Aku berjanji akan menunggumu hingga kau kembali padaku, sayang. Aku berjanji.”

“Masuklah. Aku pergi setelah aku melihatmu masuk.”

Rasa takutku itu sirna seketika. Setidaknya dia berjanji padaku. Dan aku mengerti rasanya. Ketika seseorang berjanji padamu rasanya lebih baik. Tapi lebih baik lagi jika kau bisa menepatinya.

***

“Mr.Kim bisakah aku mendapat jatah liburku minggu lalu?”

Lelaki yang ku panggil Mr.Kim itu menghentikan pekerjaannya membolak-balikkan kertas desain yang sejak dua jam yang lalu dia tekuni.

“Libur? Ms.Park kau tahukan kita sedang kebanjiran pesanan. Kau tidak bisa meninggalkanku seorang diri untuk mengurusnya.”

“Anda bisa memanggil Ms.Maidama untuk membantu. Aku sudah menanyakan hal ini padanya dan dia menyutujuinya,” jawabku dan kali ini aku harus berhasil.

“Aku lebih suka dengan pekerjaanmu, Ms.Park.”

Aku mengumpat dalam hati. Dia selalu menyuruhku ini dan itu karena dia menyukai semua desainku. Dia yang menyebabkan aku harus lembur dan kehilangan hari liburku minggu lalu. Tapi dia tidak pernah menyuruh pegawai lain dan harusnya dia menaikkan gajiku karena hal itu. Aku merasa sia-sia kerja keras jika seperti ini terus.

“Aku juga berhak dengan hari libur itu Mr.Kim. Aku sudah meminta persetujuan direktur tenang hal ini dan direktur menyetujuinya.”

Sepertinya kata-kataku itu membuatnya bungkan dan akhirnya merelakanku mendapatkan hari liburku yang telah lama tertunda. Setelah hari itu selesai, aku menyiapkan semua barang-barangku untuk kembali ke Korea. Kembali padanya.

***

Namun semuanya tidak semudah yang ku bayangkan. Beberapa jam yang lalu aku melihat laki-laki yang sudah berjanji akan menungguku itu bersama dengan seorang wanita lain. Mereka terlihat sangat dekat.

Begini kah rasanya ketika janjimu diingkari? Sepertinya aku mendapatkan karma. Aku sudah membuatnya menunggu lama.

Udara musim dingin kota Seoul ini berhembus menerpaku. Ternyata jaket yang ku pakai ini tidak terlalu tebal untuk menghalau dinginnya udara Seoul. Selama beberapa menit aku hanya terdiam di sebuah taman. Aku tidak menangis seperti kebanyakan cewek ketika merasa patah hati atau dikhianati. Aku bukan orang seperti itu. Hanya saja hatiku terasa sakit. Apakah dia juga merasa sesakit ini ketika aku mengingkari janjiku?

“Park Yongna.”

Kurasa aku mulai berhalusinasi karena aku seperti mendengar suaranya memanggil namaku. Aku sudah gila, pikirku.

“Yongna-ya.”

Tidak. Aku tidak berhalusinasi. Aku bisa mendengarnya dengan telingaku. Tapi kali ini suara itu terdengar lebih jelas. Kurasakan seperti ada sebuah bola yang menghantam perutku ketika aku berbalik dan mendapati sosoknya yang berdiri tepat dihadapanku.

Apakah dia nyata? Tanyaku dalam hati.

Apakah itu dia?

***

Aku tak tahu apa lagi yang harus ku katakan. Byun Baekhyun baru saja menelponku dan mengatakan bahwa dia melihat Park Yongna berkeliaran di sekitar jalan Gangnam. Merupakan kebetulan sekali ataukah ini yang di namakan takdir, aku juga sedang berada di Gangnam. Tentu saja aku berada di sini bukan karena mauku tetapi Noona[1]-ku yang cantik ini memaksaku menemaninya berbelanja. Dia baru saja kembali dari Negara Australia, tempatnya menimbah ilmu selama 3 tahun ini.

“Noona, maafkankan aku. Aku harus menemui seseorang dulu,” kataku di saat dia sedang memilih-milih baju di sebuah toko pakaian.

“Namja[2] or Yeoja[3]?”

Err… tiba-tiba aku menjadi malu ketika Noona bertanya seperti itu. “Temanku, yeoja.”

“Pergilah, tapi kau harus membawanya kerumah malam ini.”

Aku tahu apa yang di pikirkan oleh Noona ku itu. Dia selalu memaksaku untuk mencari pasangan, padahal dia sendiri belum mendapatkan pasangan. Aku mendengus tetapi aku tetep menyetujuinya dan segera keluar dari toko itu.

Aku terus mencarinya hingga keluar dari kawasan Gangnam karena aku sama sekali tidak melihatnya disana. Aku mulai ragu, menyangsikan pernyataan Baekhyun yang berkata dia melihat gadis itu. Di saat aku mulai putus asa, mataku menangkap sosok yang sedang duduk termenung di sebuah bangku taman. Rasa lega dan senang bercampur di dalam hatiku.

“Park Yongna.”

Aku memanggil namanya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memanggil nama itu lagi. Mungkin sejak 2 tahun lalu saat dia meninggalkanku ke Jepang. Sejak saat itu aku selalu menunggunya, menunggu janjinya.

“Yongna-ya.”

Aku berjalan mendekatinya Aku memanggilnya sekali lagi. Dan seperti itu berhasil karena dia berdiri, berbalik dan menatapku. Dia menatapku dengan wajah putus asa. Dia tetap diam di tempatnya, membatu dengan wajah kosong tanpa ekspresi. Aku tersenyum dan menariknya ke dalam pelukanku.

“Kau kembali. Dan terima kasih telah menepati janjimu.”

***

Tidak. Ini nyata. Dia nyata.

Aku bisa merasakan nafasnya di atas kepalaku. Aku juga bisa merasakan dia memelukku seperti dulu saat aku akan berangkat ke Jepang. Selama beberapa saat, otakku tidak bisa bekerja dengan baik.

“Kau kembali. Dan terima kasih telah menepati janjimu.”

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan senyumannya. Senyumannya memang tidak seindah senyuman Sungmin atau semanis senyuman Suho yang pernah ku lihat. Namun senyumanya mampu membuat perutku mual dan merasa senang. Tapi sebuah realita kembali menghempaskanku ke bawah.

“Yook, aku kembali.”

Gambaran dia sedang bersama dengan wanita kembali terulang di dalam kepalaku. Apakah sampai disini saja? Apakah dia akan berbalik dan pergi setelah bertemu denganku?

Aku tidak bisa menjawabnya ketika aku kembali mendengar suaranya.

“Kembali padaku?”

Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Kembali padanya? Lalu bagaimana dengan wanita tadi? Aku melihat di sekelilingnya, wanita tadi itu tidak lagi bersamanya.

“Padamu? Bagaimana dengan wanita yang bersamamu tadi?” tanyaku lirih. Dan seketika aku merasa bodoh dan salah sudah bertanya seperti itu. Karena sekarang dia sedang tertawa sambil memegang perutnya.

“Kau salah paham. Dia adalah Noonaku, kalau kau mau tahu.”

Dan sekali lagi aku merasa bodoh. Noona? Mengapa aku tidak memikirkan beberapa kemungkinan seperti itu. Oh, aku ingin bumi menenggelamkanku sekarang juga.

“Jinja[4]? Maafkan aku…. Dan berhenti tertawa Yook Sungjae !”

Dia menghentikan tawanya dan kembali berdiri tegap. Dia tumbuh dengan baik kurasa. Aku harus lebih mendongak lagi untuk melihat wajahnya. Ada senyum itu lagi di wajahnya.

“Lihat! Tanganmu dingin sekali.” Dia menggenggam tanganku dan mengusapnya. “Kenapa kau tidak menggunakan sarung tangan di musim dingin ini, bodoh.”

Dia melepaskan sebelah sarung tangannya dan memakaikannya ke salah satu tanganku, sementara tangannya yang satu lagi menggenggam tanganku yang tidak memakai sarung tangan dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. Seperti di dalam drama-drama yang sering ku nonton.

“Aku akan mengajakmu ke rumahku.”

“Ke rumahmu?” Dia menggangguk senang, kemudian menarik tanganku untuk mulai berjalan.

“Tapi aku tidak menyiapkan apapun,” kataku.

“Kau hanya perlu menyiapkan dirimu.”

“Kenapa?”

Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.

“Karena kita akan menikah.”

KKEUT

[1] Noona = Panggilan untuk kakak perempuan untuk adik laki-laki

[2] Namja = Laki-laki/Pria

[3] Yeoja = Perempuan/Wanita

[4] Jinja ? = Benarkan {Non-Formal}

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s