My Story : For You

Ada hal yang ingin ku sampaikan padanya sejak dulu. Hanya saja aku terlalu malu untuk mengucapkannya. Mungkin aku adalah salah satu dari sejuta perempuan pemalu di dunia ini bahkan mengatakan apa yang sebenarnya kurasakan padanya tak bisa.

Aku bukan orang yang gampang mengatakan apa yang kurasa pada orang lain. Itulah yang membuatku sering di omeli olehnya. Saat aku sakit aku tidak memberi tahu siapa-siapa tapi setelah sakitku parah dan dua mengetahuinya dia marah. Aku paham mengapa dia semarah itu.

Tapi aku tetap tidak terbiasa untuk menjadi orang yang cerewet seperti adikku. Kadang aku merasa iri padanya. Dia bebas mengatakan apa yang dia rasa tanpa merasa malu. Aku ingin bebas seperti itu. Jangan kira aku tak pernah mencobanya, sudah ku coba beberapa kali. Namun rasa malu itu menang.

Hari ini adalah hari specialnya, tapi aku tak tahu apa yang harus kuberikan padanya. Dia bukan orang yang menyukai kemewahan. Karena dia selalu mengajariku bahwa harta tidak akan pernah di bawa mati menghadap tuhan. Dia selalu mengajariku bahwa kita sebagai orang berada harus mengingat bahwa masih banyak orang yang lebih membutuhkan uang kita.

Sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah melihatnya. Kami terakhir bertemu lima bulan yang lalu. Saat itu aku merasa sangat kecewa karena saat dia akan pergi aku tidak berada di rumah. Jadi aku tidak sempat mengucapkan kata perpisahan. Setidaknya aku mendapat pelukannya setiap kali dia akan pergi meninggalkanku.

Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan sebuah surat untuknya. Walau aku tidak bisa merangkai kata-kata yang bagus, dia tetap membacanya dan hal itu pun membuatku malu. Setelah memastikan surat itu masuk dalam tasku, aku pun berangkat kerumahnya.

Keadaan rumah masih sama seperti sebelum-sebelumnya, dia sangat menyukai rumah yang mempunyai halaman. Ku buka pintu pagar yang bewarna putih itu dan langsung menuju pintu belakang. Mengapa pintu belakang? Karena aku terbiasa masuk lewat belakang daripada pintu depan.

Aku menemukannya sedang bersantai di depan televisi. Dia memakai pakaian rumahnya. Aku duduk di sampingnya, dia terkejut melihatku.

“Oh, kenapa kau datang?” tanyanya.

“Jadi aku tidak boleh datang ke rumahku sendiri?” Tanyaku balik.

Aku lalu memberikan surat yang kutulis di apartemenku. Dia membacanya.

Mom, thank you for understanding, treating, and raised me until now.

Thank you for being here and accept me into your family.

I am not a person who can speak well.

So I just could write it here.

There are many things I always wanna say to you.

It’s just a big shame to say.

I want to say …

“I love you and forgive me for this make you hard”

“And thank you for being my mother

and Happy Mother’s Day Mom”

 

From

 

Your Silly Girl

 

Aku tahu ini bukan apa-apa dibandingkan apa yang telah di berikannya untuk semua anak-anaknya. Bahkan apapun yang ku berikan tidak akan pernah cukup menandinginya. Rasanya telah banyak hal yang dilakukan Ibuku untukku. Tapi aku belum bisa membalasnya.

Dan Ibu….

Anakmu ini mencintaimu ~

download

Advertisements

One thought on “My Story : For You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s