Posted in Uncategorized

너무 보고싶어

13 tahun berlalu, nenekku sayang. Apa kabar?

Kupikir diriku telah baik baik saja. Namun tidak seperti itu

Ditinggalkan ternyata menyedihkan. Bahkan setelah bertahun tahun berlalu.

13 tahun tahun yang lalu disaat saya sendiri masih berusia 13 tahun.

Rindu sekali diriku.

Ingin rasanya saya dipeluk lalu dipukpuk dikepala. Dibuat percaya kalau semuanya baik baik saja.

13 tahun berlalu, tapi rasanya masih sama. Rindu.

Seandainya magic itu ada. Seperti Ibunya Cha Yuri. Ingin ku berdoa pada tuhan, diriku ingin melihat and maybe I’ll say I love you and give you hug sebelum kita berpisah lagi.

Mungkin kita bisa jalan-jalan dan mendengar ceritaku tentang 25 tahun hidupku didunia yang kejam ini.

Ternyata luka itu masih ada dan saya tidak sekuat dirimu.

Saya masih terus menangis ketika mengingat dirimu. Aku masih bersedih.

Setiap mendengarkan lagu Dmasiv yang “merindukanmu” seketika itu juga diriku bersedih. Rasanya baru terjadi kemarin sore.

I’m still grieving for you. I miss you so much.

들리나요?

Posted in Uncategorized

Happy 34th Birthday~!

Happy birthday to my always no.1 bias, Cho Kyuhyun ~

For the cute man even he’s 34 y.o now

I wrote this fanfiction when he’s still in the military. Around Sept 2018.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hai.”

Hari itu tidak pernah kukira, dia yang sudah setahun tidak ku jumpai berdiri di hadapanku. Dengan rambut cokelat pendek, senyum mengembang diwajahnya, dan kulitnya yang agak kecoklatan karena sengatan sinar matahari. Sangat berbeda dengan penampilannya dahulu. Saat dirinya masih bisa kusebut kekasihku.

Aku terdiam ditempatku. Berusaha memahami apa yang terjadi dan apa yang kurasakan sekarang. Rasanya aneh. Dan itu sangat mengangguku. Ada sesuatu disana. Didalam hatiku.

Pria itu berjalan mendekatiku dan berhenti tepat dihadapanku sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang sudah hampir kulupakan. Ditepuknya puncak kepalaku dengan pelan. Rasanya berbeda saat setahun lalu dirinya juga melakukan itu dengan puncak kepalaku.

Aku masih setia membisu dengan kedua mataku tidak lepas darinya. Aku perlu memastikan sesuatu. Ada yang membuncah didalam hatiku saat kedua lengannya membungkus tubuhku yang terlihat menjadi kecil. Dia memelukku dan buncahan didadaku itu membuat mataku memanas dan tidak lama kemudian air mataku pun menetes deras.

Setahun yang lalu, pria ini meninggalkanku. Hanya dengan pemberitahun lewat selembar kertas putih. Ia memintaku untuk menunggunya. Aku membencinya karena itu dan berusaha melupakannya serta memutuskan untuk tidak akan pernah menunggunya. Namun hatiku berkhianat, aku merindukannya dan selalu berharap dia kembali.

Pria itu mengelus punggungku pelan sembari mengucapkan kata-kata menghibur. Aku tersadar akan sesuatu hal yang selama setahun belakangan ini aku sembunyikan pada orang-orang disekitarku. Bahwa aku merindukan laki-laki ini. Dan tangisanku semakin tidak terhentikan saat ku dengar dia berbisik ditelingaku, “Maafkan aku, aku merindukanmu.”

Hari itu untuk pertama kalinya dalam setahun belakangan, aku merasa benar.

Posted in Uncategorized

Bye.

“Kak… Kak Sandhy”

“Ya?”

“I’m done.”

“Hah? Ngomong apaan kamu. Ga usah pake bahasa Inggris ya aku nggak ngerti. Indonesia aja.”

“I’m tired. I always looking at you, only you, but you’re not even look at me back. So, I guess it’s time to give up now.”

“Sekali lagi kamu ngomong Inggris, aku geplak ndasmu.”

“Hehehe, jangan dong kak. Cuma mau bilang kakak harus jaga kesehatan dan bahagia terus ya.”

Aku pamit.

“Kirain ngomong apaan. Udah sana pulang, suruh Brian anterin. Udah malam jangan pulang sendirian.

“Ya udah. Aku pulang ya kak. Kakak juga kalau udah selesai kerjaannya pulang tidur.”

“Ya ya. Sana, cepetan pulang.”

Hari itu adalah kali terakhir kali aku melihat dia tersenyum saat menyuruhku pulang. Kerena keesokan harinya aku pergi ke tempat yang jauh untuk mencoba merelakan kenyataan bahwa aku dan dia tidak akan pernah bersama.